Resensi Novel : Rumah Lebah – Ruwi Meita

Ngebray.com

Judul                           : Rumah Lebah – Rahasia di balik sebuah kepolosan

Penulis                        : Ruwi Meita

Penerbit                      : Gagas Media

Tahun Terbit              : Cetakan Pertama : 2008

ISBN                            : 978-979-780-228-8

Tebal Buku                 : x + 286 halaman ; 13 x 19 cm

Harga                          : Rp. 33.000,-

Peresensi                    : Esa Dynasty Alamsari

 

 

Resensi Buku

 

Tak ada yang pernah tahu kapan biji tanaman jarak pecah karena dia selalu mengelabui. Jadi, saat mimpi buruk bercerita tentang pembunuhan yang terjadi atas dirimu, anggaplah sebagai gladi kotor kematianmu. Karena kematian memang selalu mengelabui dan datang tiba-tiba. Bersiap-siaplah selalu…

Mala tahu ini bukan sebuah mimpi buruk. Bukan halusinasi sebagaimana yang dipikirkan Nawai. Ini kenyataan. Ada enam orang asing yang hidup dan bernapas di rumah lebah. Mata telanjang milik gadis cilik genius berjiwa ganjil itu melihat semuanya. Melihat apa yang tak diketahui dan tak dilihat orang. Tidak juga Nawai.

Atau tepatnya, tak boleh ada seorang pun yang mengetahui semua. Sebab itu justru akan menjadi gladi kotor kematian bagi sang ratu lebah. Sosok yang seharusnya tak boleh diganggu keberadaannya.

Sepert itu blurb yang tertera di sampul belakang novel ini. Novel yang sarat dengan pertanyaan dan misteri yang menuntut untuk dipecahkan. Menelisik rasa penasaran pembaca, membangkitkan hasrat untuk menuntaskan cerita ini secepatnya demi mendapatkan jawaban atas semua pertanyaan yang muncul di kepala.

Novel karya penulis Ruwi Meita ini, dibuka dengan suasana penuh ketegangan dengan latar belakang waktu malam hari dimana Nawai terbangun tengah malam dan tak mendapati Mala, anaknya, ada di kamarnya.

Kondisi ini mulai membuat rasa penasaran saya diawal membaca. Kemudian memaksa saya untuk terus melahap lembar demi lembar cerita dalam buku ini.

Kisah tentang Mala, gadis cilik dengan tingkat kecerdasan yang luar biasa, membuatnya bukan hanya berbeda dengan anak-anak seusianya tapi juga tak bisa beradaptasi dan akhirnya lebih suka menyendiri. Itu juga alasan kedua orang tuanya, Nawai dan Winaya, akhirnya tidak menyekolahkan Mala di sekolah umum, melainkan hanya mengajarinya di rumah. Di usianya yang masih anak-anak, Mala sudah mampu menguasai bahasa Spanyol, bahkan dia sanggup melahap berbagai buku ensiklopedia dan memahami isinya.

Selain kejeniusan yang dimiliki Mala tersebut, dia juga sanggup melihat makhluk-makhluk asing yang selama ini tak bisa dilihat oleh orang lain, termasuk kedua orang tuanya. Bahkan, Nawai dan Winaya, hanya menganggap itu sebagai teman imajinasi Mala saja. Karena Mala tak punya teman dan tinggal di daerah terpencil dekat danau yang suasananya sangat tenang.

Hingga suatu pagi tempat itu digegerkan dengan penemuan mayat seorang lelaki yang terapung di tengah danau. Kejadian ini akan menjadi cerita panjang tentang misteri apa yang ada di balik semuanya. Siapa makhluk-makhluk asing yang hanya bisa dilihat Mala dan apa hubungannya dengan tragedi pembunuhan yang juga menyeret nama seorang artis terkenal bernama Alegra Kahlo dan kekasihnya, Raihan, yang merupakan pengusaha kotor yang tak pernah terjamah oleh hukum.

Tokoh favorit saya dalam cerita ini adalah Mala. Dia membuat cerita ini benar-benar penuh misteri, karakternya yang jenius tapi juga dingin, membuat saya penasaran kemana penulis akan membawa kisah ini selanjutnya.

Buku ini cukup recomended untuk pencinta thriller misteri, membuat penasaran, tapi juga cukup ringan sebagai bacaan hiburan mengisi waktu luang.

Meet me

Echa Dynasty

Writer at Es_Dy_A
Saya hanya ibu rumah tangga yang bermimpi jadi penulis.
Ingin menulis apapun, dimana pun, dan kapan pun... yang penting bermanfaat dan bisa dibagikan untuk orang banyak.
Paling happy kalau ada orang yang baca dan me-review karyanya.

"Karena bagi saya menulis itu bukan cuma tentang mencatatkan aksara, tapi juga ada kejujuran yang terkadang tak sanggup direalisasikan dalam nyata"
Meet me

Latest posts by Echa Dynasty (see all)