Program ‘Family For Family’ Untuk Mengurangi Kemiskinan

ngebray.com,- Walikota Bandung, Bapak Ridwan Kamil, mulai merealisasikan inovasi program sosial yang bertujuan untuk mengentaskan dan mengurangi angka kemiskinan di kota Bandung, yang disebut “Family For Family” (FFF).

fff

Realisasi dari program tersebut dilakukan dengan cara pemberian bantuan kepada keluarga kurang mampu yang diberikan oleh keluarga donor dengan difasilitasi oleh Pemkot Bandung.

Kang Emil, begitu sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa Family for Family adalah program keluarga asuh, yaitu satu keluarga mapan mengasuh minimal satu keluarga pra-sejahtera.

Disebutkan pada akun instagram pribadi milik Ridwan Kamil, bahwa program Family For Family ini terinspirasi dari cerita kemuliaan kaum Anshar yang membantu keluarga kaum Muhajirin di Madinah saat peristiwa Hijrah.

Pengorbanan kaum Anshâr yang mengagumkan ini diabadikan di dalam Al-Qur`ân, surat al-Hasyr/59 ayat 9 :

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshâr) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).

Berkaitan dengan ayat di atas, terdapat sebuah kisah sangat masyhur yang melatarbelakangi turunnya ayat 9 surat al-Hasyr. Abu Hurairah Radhiyallahu anhumenceritakan:

أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ فَبَعَثَ إِلَى نِسَائِهِ فَقُلْنَ مَا مَعَنَا إِلَّا الْمَاءُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ مَنْ يَضُمُّ أَوْ يُضِيفُ هَذَا فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ أَنَا فَانْطَلَقَ بِهِ إِلَى امْرَأَتِهِ فَقَالَ أَكْرِمِي ضَيْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ فَقَالَتْ مَا عِنْدَنَا إِلَّا قُوتُ صِبْيَانِي فَقَالَ هَيِّئِي طَعَامَكِ وَأَصْبِحِي سِرَاجَكِ وَنَوِّمِي صِبْيَانَكِ إِذَا أَرَادُوا عَشَاءً فَهَيَّأَتْ طَعَامَهَا وَأَصْبَحَتْ سِرَاجَهَا وَنَوَّمَتْ صِبْيَانَهَا ثُمَّ قَامَتْ كَأَنَّهَا تُصْلِحُ سِرَاجَهَا فَأَطْفَأَتْهُ فَجَعَلَا يُرِيَانِهِ أَنَّهُمَا يَأْكُلَانِ فَبَاتَا طَاوِيَيْنِ فَلَمَّا أَصْبَحَ غَدَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ فَقَالَ ضَحِكَ اللَّهُ اللَّيْلَةَ أَوْ عَجِبَ مِنْ فَعَالِكُمَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمْ الْمُفْلِحُونَ

Ada seseorang yang mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (dalam keadaan lapar), lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim utusan ke para istri beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Para istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Kami tidak memiliki apapun kecuali air”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapakah di antara kalian yang ingin menjamu orang ini?” Salah seorang kaum Anshâr berseru: “Saya,” lalu orang Anshar ini membawa lelaki tadi ke rumah istrinya, (dan) ia berkata: “Muliakanlah tamu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam !” Istrinya menjawab: “Kami tidak memiliki apapun kecuali jatah makanan untuk anak-anak”. Orang Anshâr itu berkata: “Siapkanlah makananmu itu! Nyalakanlah lampu, dan tidurkanlah anak-anak kalau mereka minta makan malam!” Kemudian, wanita itu pun menyiapkan makanan, menyalakan lampu, dan menidurkan anak-anaknya. Dia lalu bangkit, seakan hendak memperbaiki lampu dan memadamkannya. Kedua suami-istri ini memperlihatkan seakan mereka sedang makan. Setelah itu mereka tidur dalam keadaan lapar. Keesokan harinya, sang suami datang menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Malam ini Allah tertawa atau ta’ajjub dengan perilaku kalian berdua. Lalu Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat-Nya, (yang artinya): dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung –Qs. al-Hasyr/59 ayat 9. [HR Bukhari]

Langkah nyata yang diambil Kang Emil dan istri untuk program tersebut adalah dengan

menjadi keluarga asuh keluarga Ai (43) seorang janda dengan 4 orang anak yang kondisinya memang berada dalam garis kemiskinan.

Ai (43) merupakan seorang janda dengan empat orang anak, dan sudah menjadi janda selama 4,5 tahun setelah ditinggal suaminya yang meninggal dunia akibat pecah pembuluh darah. Ia menjadi buruh cuci pakaian untuk memenuhi kebutuhan hidup serta membiayai keempat orang anaknya. Kini Anak sulungnya tidak lagi bisa melanjutkan sekolah setelah lulus SMA akibat ketiadaan modal,  anak keduanya masih duduk disekolah menengah pertama (SMP), anak ketiganya kelas 4 SD dan sering mengalami sakit, sedangkan anak keempatnya masih duduk dikelas 2 SD.

Penggunaan frasa “Family for Family” dalam bahasa Inggris juga menunjukkan bahwa gagasan ini diharapkan tidak hanya dilaksanakan di Bandung, tetapi ke depannya juga bisa menginspirasi hingga ke seluruh belahan dunia.

“Mimpinya mendunia. Kalau di Bandung bisa beres kemiskinan, siapa tahu 27 juta kemiskinan di Indonesia bisa beres dengan 20 juta keluarga mampu,” imbuhnya.

Kang Emil menambahkan, “kalau kita tidak bisa bersaudara dengan keyakinan, bersaudaralah dalam kemanusiaan”

Dalam sebuah status yang diunggah di akun instagram pribadi milik beliau, disampaikan pula “Ada 50 ribu keluarga tidak mampu di Bandung, atas izin Allah kami sedang ikhtiar mencari 50 ribu keluarga mapan yang dermawan. Kami percaya sesungguhnya masalah kemiskinan di negeri ini akan selesai cepat jika masyarakat ikut turun tangan menyelesaikannya dengan kesetiakawanan sosial. Inilah definisi Masyarakat Madani. Family For Family ini dijalankan oleh SDM anak-anak muda yang mensurvey, mewawancara problem riil, dan membuatkan aplikasi. Sehingga keluarga asuh bisa cek via hp, kemajuan bulanan keluarga yg diasuhnya. Kenapa namanya pake bahasa Inggris? karena suatu hari gerakan ini akan mendunia dimana kebaikannya akan lintas batas negara, dan mengikis kemiskinan dunia dengan kemanusiaan. Jadi suatu hari bisa saja keluarga miskin di Suriah diasuh secara virtual oleh satu keluarga mapan di Singapura. Allah selalu bersama mereka2 yang bekerja dan berupaya” (ed).

 

Meet me

Echa Dynasty

Writer at Es_Dy_A
Saya hanya ibu rumah tangga yang bermimpi jadi penulis.
Ingin menulis apapun, dimana pun, dan kapan pun... yang penting bermanfaat dan bisa dibagikan untuk orang banyak.
Paling happy kalau ada orang yang baca dan me-review karyanya.

"Karena bagi saya menulis itu bukan cuma tentang mencatatkan aksara, tapi juga ada kejujuran yang terkadang tak sanggup direalisasikan dalam nyata"
Meet me

Latest posts by Echa Dynasty (see all)