celoteh kita : Suami “Cerewet” – Yes or No? – (baca dulu aja yuk!)

c360_2016-11-29-10-46-58-687

Ngebray.com,- Cerewet biasanya kata yang sangat identik dengan kaum perempuan. Karena berasal dari Adam dan Hawa. Mengapa begitu? coba saja lafalkan. Ketika mengucap kata Hawa, maka mulut akan terbuka, dan ketika menyebutkan kata Adam, maka mulut tertutup. Ini hanya intermezzo saja ๐Ÿ˜€.

Lalu mengapa judul artikel ini adalah Suami “Cerewet”?, eits… tenang, saya bukan sedang menceritakan aib suami saya sendiri. Karena, itu tidak boleh.

Saya menikah hampir 4 tahun. Dan setelah menikah, saya baru menemukan fakta nyata bahwa suami saya adalah orang yang sangat ‘cerewet’. Sampai-sampai ada masanya saya dibuat kesal dengan berbagai macam komplainnya.

Saya mulai memutuskan memakai jilbab beberapa bulan sebelum menikah. Bukan karena suami, bukan karena mau menikah, bukan karena siapapun, tapi Alhamdulillah hidayah itu datang menyentuh hati saya. Saya mulai menyadari kewajiban yang begitu besar untuk menutup aurat. Terlambat memang jika melihat usia dan poin-poin lain. Tapi, untuk hal yang tujuannya kebaikan, seharusnya tidak boleh ada terlambat kan? Anggaplah ini salah satu langkah kecil saya untuk memperbaiki diri saya sendiri.

Singkat kata kami menikah. Memang perkenalan kami relatif tidak terlalu lama. Dari awal kenal hingga menikah hanya 9 bulan. Ya… mungkin kurun waktu tersebut ada yang berpendapat, cepat, cukup, bahkan lama. Silahkan berpendapat, toh bukan itu yang menjadi poin penting yang ingin saya share di sini.

Kembali ke masalah cerewet.

Setelah menikah, saya mulai tahu satu per satu sifat, karakter, dan kebiasaan suami saya yang selama ini tidak muncul di masa sebelum menikah. Salah satunya adalah suami saya sangat ‘cerewet’.

“Yank itu rambutnya kelihatan” (ketika ada rambut nakal yang muncul sehelai setelah berwudhu, shalat, atau melepas helm).

“Yank, besok2 jangan pakai baju itu ya, ngetat banget”

“Yank, kerudung itu jangan di pakai lagi, motifnya masa tengkorak gitu”

“Yank , mending jangan pakai celana jeans pakai rok aja”

(Lalu saya buang semua celana jeans saya (sebagian beralih fungsi jadi kain lap hehehe) dan beralih ke rok atau gamis)

“Yank, kalau pake rok itu pake jaket lagi ya, pant*at- nya (maaf ya) masih keliatan”

“Yank, kerudungnya emang gitu ya? kok terawang?”

Dan masih banyak lagi “yank… kok ini sih, kok itu sih” yang lainnya.

Lama-lama saya kesel, sampai suatu waktu saya marah ke suami dan bilang “kayaknya kalau aku pakai gamis tertutup dan bercadar pun, di mata kamu masih ada aja kurang dan salahnya”.

itu kalimat yang pernah saya lontarkan.

Astagfirullahaladzim… Maafin saya ya, Suami… Ampuni saya ya Allah….

Semakin lama saya belajar, saya baca buku, baca artikel, ikut pengajian, ngobrol dengan beberapa teman. Dan introspeksi diri, merenung sendirian. Dan menemukan kenyataan bahwa apa yang selama ini di ‘cereweti’ dan dikomplainkan oleh suami itu semata-mata untuk menjaga saya dan sebagai bentuk pertanggungjawabannya.

Ketika saya melakukan dosa, suami saya juga kelak ikut dimintai pertanggungjawabankan?

Maka sangat wajar kalau dia begitu over protektif dan cerewet terhadap saya.

Siapa sih orang yang mau menanggung kesalahan orang lain sementara dia sendiri tidak melakukannya?

Jawabannya pasti “tidak ada”.

Ya memang benar, saya pun tidak mau menanggung kesalahan orang lain.

Dari sana saya sadar, suami saya hanya ingin mengingatkan saya, membuat saya aman, membuat saya ada di jalan yang baik. Karena dia akan dimintai pertanggungjawaban atas istrinya kelak. Ada beban berat di pundaknya, berkenaan dengan tanggung jawabnya terhadap keluarga. Istri, anak-anak, adik-kakaknya, dan orang tuanya.

Semakin lama saya semakin sadar, bahkan bersyukur karena memiliki suami yang begitu concern mengingatkan istrinya atas nama kebaikan. Bukan hanya berkaitan dengan penampilan saja, tapi juga akhlak, perilaku dan ilmu. Saya bersyukur ada suami, ayah, dan adik laki-laki yang sering “cerewet” mengingatkan jika saya jauh ber’belok’ dari jalur yang seharusnya.

Bukankan peran manusia itu untuk saling mengingatkan sesamanya, seperti tertuang dalam Al Quran Surat Al-Ashr 1-3 :

ุฃูŽุนููˆู’ุฐู ุจูุงู„ู„ู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุดูŽู‘ู€ูŠู’ุทูฐู†ู ุงู„ุฑูŽู‘ุฌููŠู’ู…ู
ุจุณู… ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฑุญู…ู† ุงู„ุฑุญูŠู…
Surat Al-Ashr Ayat 1
ย Demi masa.

 

 

Surat Al-Ashr Ayat 2
ย Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
Surat Al-Ashr Ayat 3
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati dengan kesabaran.
Jadi kembali ke judul artikel di atas, jika ada pertanyaan, Suami Cerewet, yes or no?
Untuk alasan yang sudah dijelaskan di atas, saya sih Yes banget ๐Ÿ˜€
Karena nggak ada hal yang lebih romantis daripada seorang suami yang menjaga istrinya dari api neraka.
Dan ternyata saya bahagia dengan segala kecerewetannya.
Semoga sharingnya bermanfaat. Namanya juga celoteh kita, ya di sini saya hanya mau berceloteh tentang apa yang saya tahu dan yang saya rasakan.
Bukan untuk menyinggung, men-judge, apalagi menyindir orang lain.
Mohon maaf untuk kata dan kalimat yang kurang berkenan.
Wassalamu’alaikum ๐Ÿ˜€

Meet me

Echa Dynasty

Writer at Es_Dy_A
Saya hanya ibu rumah tangga yang bermimpi jadi penulis.
Ingin menulis apapun, dimana pun, dan kapan pun... yang penting bermanfaat dan bisa dibagikan untuk orang banyak.
Paling happy kalau ada orang yang baca dan me-review karyanya.

"Karena bagi saya menulis itu bukan cuma tentang mencatatkan aksara, tapi juga ada kejujuran yang terkadang tak sanggup direalisasikan dalam nyata"
Meet me

Latest posts by Echa Dynasty (see all)