celoteh kita : Kisah Yang Terus Terkenang Dari 212

img_3301

Ngebray.com,- Ada jutaan rasa tersisa di Aksi Super Damai 212 kemarin. Terlalu banyak hingga rasanya setiap kali memandang ke depan, mata ini masih saja memandang jelas semua hal yang terjadi dan terlewati hari itu.

Bisa dibilang keberangkatan saya dan suami untuk ikut serta dalam aksi 212 termasuk dadakan. Ada rasa yang begitu menggebu di hati kami masing-masing untuk hadir di sana. Turut berdoa bersama ratusan, ribuan, bahkan jutaan umat Islam yang lain. Terlebih setelah menyaksikan rombongan long march Ciamis yang kebetulan lewat di jalan raya daerah tempat tinggal kami.

Masih saya ingat dengan baik, saya dan suami baru booking tiket travel secara online pada pukul 15.35 WIB untuk keberangkatan pukul 18.45 WIB menuju Jatiwaringin, Jakarta Timur. Baru setelah itu kami mulai bersiap-siap, packing seadanya.

Kami berangkat dari rumah menuju travel sekitar pukul 17.00 dengan ojek online (2 motor). Ada yang menarik, percakapan dengan driver ojek di perjalanan. (Saya (S), Driver Ojek (DO)).

DO : “Mau  ke Jakarta, Teh? Mau ikut demo?” (mungkin karena tujuan saya ke travel dan juga membawa ransel)

S    : “Iya”

DO : “Serius, Teh? Aslinya?” (Pertanyaan ini diulang beberapa kali. Padahal saya sudah jawab Iya, beberapa kali juga).

S     : “Iya”

DO : “Nggak takut gitu, Teh? Ada kerusuhan atau apa kayak yang udah-udah?”

S    : “Insya Allah, nggak. Kan ini doa bersama, istighasah, sama shalat jumat”

DO : “Teteh dari organisasi apa?”

S    : “Ngga dari mana-mana. Saya pribadi aja bareng sama suami berdua”

DO : “Ini sukarela apa dibayar, Teh?”

S    : “Alhamdulillah sukarela. Siapa atuh, A, yang mau bayar?”

Driver itu terdiam sambil mengangguk-angguk. Sampai akhirnya ketika sampai di tujuan, setelah mengembalikan saya helm dan bilang terima kasih. Driver itu bicara lagi.

DO : “Hati-hati ya, Teh. Semoga nggak ada apa-apa. Lancar, damai. Beranian si Teteh”

Aku hanya jawab dengan senyum dan anggukkan.

Perjalanan dengan niat baik itu Allah berkahi, terbukti dari kebaikan salah seorang teman suami yang menawarkan menjemput dan mengajak kami menginap di rumah kontrakannya. Alhamdulillah.

Esok paginya, tanggal 02 Desember, kami pergi pukul 05.30 pagi. Menuju ke lokasi salah satu rombongan peserta aksi berkumpul. Saya lupa namanya apa, kalau tidak salah rombongan dari Pondok Melati.

Jujur, saya dan suami tidak mengenal satu orang pun dari rombongan tersebut. Kami diajak ke sini oleh teman suami saya.

Alhamdulillah, kami (khususnya saya) di terima dengan sangat baik di rombongan ini. Saya dan suami terpisah bis, karena saya bergabung dengan akhwat. Mereka begitu ramah pada saya. Doa, bincang-bincang, sampai candaan ringan membuat kami semua cepat akrab di dalam bis.

Sejak di dalam bis saja, rasa haru seperti terus menyelimuti hati saya. Bahkan air mata tak bisa tertahan. Ketika melihat rombongan lain di luar sana, ada yang naik bis, kendaraan pribadi, motor, mobil bak terbuka, metro mini, bahkan yang berjalan kaki. Ketika berpapasan kami saling tersenyum, mengucap salam, bahkan meneriakan takbir.

Kami turun di Plaza Atrium Senen, karena keadaan padat. Dari sana kami berjalan kaki sampai Monas. Kurang lebih 2-3 km mungkin. Lagi-lagi haru itu memnbuncah dalam hati. Begitu melihat sepanjang jalan orang-orang membagikan makanan dan minuman gratis. Bahkan ada yang sampai memaksa ketika saya menolak halus, “Ambil, Mba, buat minum atau buat wudhu. Rezeki jangan ditolak” kata seorang Ibu yang menawarkan sebotol air mineral. Aku menerimanya, padahal di dalam tas sudah ada 2 botol dan dalam kantong plastik di tanganku ada dua botol lagi.

Jalan beberapa langkah, ada yang membagikan roti, kurma, cemilan, bahkan nasi kotak yang tak ku ambil karena khawatir tidak semuanya bisa ku makan, malah akan mubadzir nantinya.

Kami tiba di MONAS, sudah penuh orang. Masuk dan langsung menggelar sajadah. Seorang ibu membagikan plastik bening besar, untuk sampah katanya. Kami duduk di atas sajadah kami masing-masing. Mendengarkan tausiyah yang saat itu di sampaikan Ust. Arifin Ilham, larut dalam doanya yang begitu menyayat hati. Kemudian dilanjutkan oleh A Agym.

“Ini hawanya teduh, nggak ada matahari, tapi kok silau banget ya?” kata teman di sebelahku.

“Iya silau banget, tapi nggak panas” komentarku.

“Gara-gara semua orang kebanyakan pakai baju putih kali ya”

Memang begitu suasananya. Jakarta begitu teduh, tak ada terik matahari. Tapi anehnya pandangan saya silau sekali. Saya tak sanggup menatap lurus ke arah depan tanpa mengernyit.

Sampai akhirnya tiba waktunya shalat Jumat. Aku dan beberapa teman serombongan mengambil air wudhu dari botol air mineral bawaan kami masing-masing. Menjelang shalat Jumat, hujan mengguyur. Cukup deras, tapi tak ada petir dan kilat menyambar. Tidak menyeramkan. Tak ada yang berlari. Tak ada yang menepi. Tak ada yang mengeluh.

Seorang ibu di depan saya berbalik menatap saya, “Hujannya itu berkah. Allah lagi kasih rahmat buat kita semua yang ada di sini. Niatkan aja dalam hati, hujan ini menghilangkan semua penyakit, melunturkan dosa-dosa. Seperti di ruqyah” begitu katanya. Aku hanya mengangguk, mataku buram karena air mata yang mengembang.

Kami shalat dalam hujan.  Mukena-mukena kami kuyup, termasuk pakaian di dalamnya. Sajadah kami lengket dengan paving block basah. Tapi semua khusyu’ dalam shalatnya. Sampai akhirnya masuk rakaat kedua dan doa Qunut yang begitu panjang.

Rasanya tak sanggup lagi menahan air mata. Air hujan dan air mata bercampur membasahi wajah. Meninggalkan rasa asin. Aku menggigil. Menahan gejolak hati dengan berbagai perasaan yang bercambur baur di dalamnya. Haru, hanya itu yang sanggup tersampaikan.

Ah semuanya masih tergambar jelas di benak, otak, hati, bahkan di pandangan mata pun rasanya masih terlihat semuanya. Bangga menjadi bagian kecil dari aksi sebenar itu. Dari jutaan manusia dari berbagai penjuru yang berkumpul menjadi satu. Dengan tujuan dan niat yang sama. Walaupun banyak yang melewati halangan yang beragam di perjalanan. Tak sedikitpun menggentarkan mereka untuk tetap hadir dan berpartisipasi.

Allah maha melihat, Allah maha tahu.

Biarkan Allah pula lah yang menilai dan membalas semuanya.

Stop nyinyir, benci, dengki, iri atau perdebatan tanpa arti.

Ini ceritaku, mana ceritamu 🙂

(ed).

Meet me

Echa Dynasty

Writer at Es_Dy_A
Saya hanya ibu rumah tangga yang bermimpi jadi penulis.
Ingin menulis apapun, dimana pun, dan kapan pun... yang penting bermanfaat dan bisa dibagikan untuk orang banyak.
Paling happy kalau ada orang yang baca dan me-review karyanya.

"Karena bagi saya menulis itu bukan cuma tentang mencatatkan aksara, tapi juga ada kejujuran yang terkadang tak sanggup direalisasikan dalam nyata"
Meet me

Latest posts by Echa Dynasty (see all)

One Comment